Pengikut

Laman

Senin, 12 April 2010

FOTO EXPO TEACHING FACTORY DI STAND TEKNIK FURNITUR SMKN 2 KENDAL











HASIL JEPRETAN KEGIATAN EXPO PRODUK TEACHING FACTORY SMKN 2 KENDAL, 3 APRIL 2010

MAIN BADMINTON

video

expo teaching factory

foto expo

Selasa, 10 Februari 2009

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama sekolah             : SMK NEGERI 2 KENDAL
Mata Diklat                 : Menggunakan Peralatan Kayu ( MPK )
Kelas/Semester          : II/I
Pertemuan Ke             : 1
Alokasi Waktu             : 10 x 45 menit
Standar Kompetensi  : Menggunakan Peralatan Mesin Tetap
Kompetensi Dasar      : Mengoperasikan mesin
Indikator : 
 Prosedur menghidupkan mesin dilaksanakan sesuai petunjuk pabrik pembuat
 Bahan dikerjakan dan disorongkan pada mesin sesuai petunjuk pabrik pembuat dengan tatacara pengerjaan yang aman
 Bahan diatur dan dipaskan pada tempat yang semestinya pada mesin penggerak sesuai dengan petunjuk pabrik pembuat.
 Mesin dioperasikan pada kapasitas dan untuk kegunaan yang ditetapkan sesuai dengan spesifikasi pabrik pembuat dan persyaratan kesehatan dan keselamatan kerja.
 Prosedur mematikan mesin dilaksanakan sesuai petunjuk pabrik pembuat.
 Adanya kerusakan/penyimpangan yang tidak sesuai dengan aturan ditempat kerja,dilaporkan lisan atupun tertulis.

I. Tujuan Pembelajaran
 Siswa dapat menggunakan peralatan mesin tetap

II. Materi Ajar (Materi Pokok)
 Menggunakan peralatan mesin tetap Radial Arm saw

a. Mengenal Mesin Gergaji Bundar Berlengan (Radial Arm Saw)
Mesin gergaji bundar berlengan ádalah mesin yang menggunakan konstruksi tiang, konstruksi lengan dan terpasang sebuah daun gergaji bundar dimana daun gergajinya berada diatas dudukan/meja dan dapat digeser pada sepanjang lengannya, digeser naik-turun pada tiangnya, serta dapat pula diputar 180°. Mesin ini penting sekali untuk digunakan pada Sekolah Kejuruan maupun untuk perusahaan/industri perkayuan. 

b. Fungsi Gergaji Bundar Berlengan
Fungsi yang pokok dari mesin ini ádalah untuk memotong tegak dan miring. Selain itu juga dapat digunakan untuk memotong bentuk cowakan tegak atau miring, membuat sponing, membuat alur dan membuat purus atau pen.

c. Keselamatan Kerja Mesin Gergaji Bundar Berlengan 
Demi keamanan dan keselamatan kerja secara optimal pada saat mengoperasikan mesin ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:  
a) Periksa semua dan yakinkan bahwa mesin dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan
b) Gunakan daun gergaji yang tajam
c) Perhatikan putaran sumbu pada saat memasang daun gergaji
d) Tempatkan tudung pengaman sesuai keinginan yang tepat pada saat menggunakan mesin
e) Pilih permukaan kayu/benda kerja yang dapat menempel stabil terhadap penghantar selama pemotongan 
f) Pegang dan tekan kayu/benda verja dengan penghantar selama melkukan pemotongan
g) Jangan memotong kayu pada posisi mendorong gergaji
h) Pusatkan perhatian pada pekerjaan dan mesin yang sedang digunakan
i) Tidak mengganggu orang yang sedang bekerja menggunakan alat mesin
j) Apabila ragu-ragu mintalah bimbingan instruktor untuk memulai pengoperasian mesin ini.



  Handel pengunci lengan Lengan penggantung daun gergaji 
  Pegangan daun gergaji 
   
  Pengantar MeMeja kerja/dudukan
   
  Rangka meja
  Handel pengatur lengan  
   









Gambar 1. Mesin Gergaji Bundar Berlengan


d. Memotong dan Membuat bentuk dengan Radial Arm Saw

1. Memotong siku dan memotong miring













  Gambar 2a. Memotong siku Gambar 2.b. Memotong miring

Langkah-langkah yang harus dilakukan ádalah sebagai berikut:  
a) Siapkan benda kerja/kayu yang akan dipotong
b) Pasang daun gergaji potong/daun gergaji kombinasi
c) Periksa kedudukan lengan terhadap pengantar dan posisi daun gergaji terhadap meja/kedudukan, selanjutnya kuncikan alat-alat pengunci
d) Geser daun gergaji kebelakang penghantar dan joke dalam keadaan terkunci pada lengan. 
e) Atur tudung pengaman dengan jarak ± 6 mm dari permukaan kayu/benda kerja, bersihkan sekitar posisi daun gergaji agar tidak mengganggu proses pemotongan
f) Stel lengan dan pilih pada posisi tegak atau miring sesuai keinginan
g) Letakkan kayu pekerjaan pada dudukan, dimana sisi tebal kayu merapat pada penghantar dan sisi lebar menempel pada dudukan
h) Jalankan motor tunggu sampai putaran daun gergaji maksimal, kemudian pegang penarik daun gergaji dan buka kunci joke, pegang kayu/benda kerja dengan tangan kiri dan tarik daun gergaji dengan tangan kanan secara teratur untuk melakukan pemotongan
i) Apabila pemotongan selesai kembalikan daun gergaji pada posisi semula dan kuncikan joke pada lengan
j) Apabila melakukan pemotongan kayu berskala banyak dengan usuran yang sama, maka perlu menggunakan kayu penan (stop blok) pada salah satu ujung kayu dan tergantung dari posisi pemotongan
k) Bila sedang melakukan pemotongan pada kayu yang panjang, maka diperlukan alat bantu penan supaya kayu tidak terjungkit.

2. Memotong Cowakan (Dado) tegak atau Miring 

 













  Gambar 3. Memotong Cowakan (Dado) Tegak/Miring


Langkah-langkah yang harus dilakukan hádala sebagai berikut:  
a) Siapkan benda kerja/kayu yang akan dipotong
b) Cara penyetelan lengan dan daun gergaji sama seperti pada penyetelan pekerjaan pemotongan
c) Pasang daun gergaji dado dengan ukuran sesuai kebutuhan
d) Setel daun gergaji dengan kedalaman cowakan sesuai ukuran yang diinginkan, maka yang harus dilakukan adalah sbb:
(1) Turunkan daun gergaji sampai menyentuh benda kerja/kayu pekerjaan diatas meja.
(2) Ukur kedalaman cowakan dapat dilakukan pada tiang/column
(3) Selanjutnya turunkan daun gergaji sampai menyentuh batas yang telah diukur tadi
e) Bila cowakan yang akan dibuat cukup lebar, maka pemotongan harus dilakukan secara bertahap sampai batas yang dikehendaki terutama pemotongan pada sisi-sisinya.

3. Membuat Sponing dan Alur:  














  Gambar 4. Membuat Sponing dan alur

Langkah-langkah yang harus dilakukan ádalah sebagai berikut:  
a) Siapkan benda kerja/kayu yang akan dipotong
b) Prinsip penyetelan sama seperti pada penyetelan pekerjaan pemotongan dan membuat cowakan (dado) tegak atau miring
c) Pasang daun gergaji dado head dimana bagian kayu yang akan dibuat sponing menempel rapat pada penghantar
d) Stel daun gergaji untuk menentukan kedalaman sponing
e) Pembuatan sponing dengan satu buah daun gergaji juga dapat dilakukan langkah-langkah seperti berikut:  
f) Daun gergaji distel tegak-lurus dan sejajar meja kerja untuk menentukan kedalaman dan menentukan lebar sponing
g) Keluarnya daun gergaji dari penghantar sebagai ukuran lebar sponing
h) Pembuatan alur dan sponing dapat dikerjakan dalam keadaan daun gergaji sejajar dengan meja kerja, posisi seperti ini meja dianggap sebagai penghantar dan penghantar dianggap sebagai meja kerja.

4. Membuat Purus/Pen:  












   
  Gambar 5. Membuat purus/pen  
   
Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:  
a) Siapkan kayu pekerjaan/benda kerja yang sudah dilukis untuk dipotong
b) Pasang daun gergaji dado head apabila purus yang akan dibuat cukup panjang
c) Stel lengan pada kedudukan yang sesuai dengan dada purus yang akan dipotong
d) Stel daun gergaji pada posisi tegak-lurus dengan meja kerja, hal ini akan menentukan tegak-lurusnya dada purus/pen yang akan dibuat,
e) Singkirkan benda-benda disekitar gergaji yang akan mengganggu proses pemotongan
f) Atur kedalaman daun gergaji sesuai dengan kedalaman dada purus,
g) Atur tudung pengaman ± 6 mm diatas permukaan benda kerja
h) Letakkan kayu pekerjaan dengan posisi tebal menempel rapat pada penghantar dan lebar kayu menempel rapat pada meja kerja
i) Pegang penarik daun gergaji, lalu buka kunci joke, selanjutnya pegang kayu pekerjaan dengan tangan kiri sementara tangan kanan menarik daun gergaji untuk melakukan pemotongan dengan teratur
j) Pemotongan pertama tepat pada dada purus/pen, selanjutnya kayu digeser hinggá pekerjaan ini selesai
k) Apabila posisi purus yang akan dibuat tepat ditengah-tengah penampang kayu, maka ukuran kedalaman dada kanan-kiri purus tidak perlu dirobah
l) Balik kayu benda kerja pada posisi 180° selanjutnya dari ujung kayu tersebut dilakukan pemotongan kedua dan bergeser sampai tepat segaris pada dada purus yang telah dilakukan pemotongan pertama
m) Bila pemotongan telah selesai, kembalikan daun gergaji pada sisi semula dan kuncikan joke
n) Apabila pembuatan purus dilakukan sekala besar dalam ukuran yang sama, maka perlu dipasang kayu penahan (stop blok) pada satu sisi ujungnya.  

5. Menggergaji miring berganda:  

















Gambar 6. Menggergaji miring berganda


Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:  
a) Siapkan kayu pekerjaan/benda kerja yang sudah dilukis dari bentuk miring berganda yang akan dibuat
b) Stel kemiringan lengan berikutnya stel kemiringan daun gergaji sesuai ukurang yang diinginkan
c) Lakukan pekerjaan pemotongan seperti pekerjaan pemotongan yang sudah dipelajari sebelumnya.


III. Metode Pembelajaran
 Ceramah 
 Tugas menggunakan peralatan mesin tetap dengan benda kerja.


IV. Langkah-langkah Pembelajaran

Pertemuan Ke 1
a. Kegiatan Awal
 Siswa dikenalkan dengan penggunaan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw
 Siswa dikenalkan dengan keselamatan dan kesehatan kerja menggunakan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw .
b. Kegiatan inti 
 Guru memberi teori tentang penggunaan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw
 Guru memberi teori tentang keselamatan dan kesehatan kerja menggunakan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw
 Siswa diberi contoh membuat benda kerja dengan menggunakan mesin Radial Arm Saw
 Siswa diberi tugas membuat benda kerja dengan menggunakan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw
 Siswa menggunakan peralatan mesin tetap sesuai dengan aturan yang ditentukan
  c. Kegiatan Akhir
 Siswa membereskan pekerjaan dan bersikap positif dan terbuka terhadap penilaian hasil pekerjaan oleh guru
 Siswa membersihkan ruang kerja dan menyimpan gambar kerja pada tempat yang telah ditentukan.

Pertemuan Ke 2
a. Kegiatan Awal
 Mengingatkan siswa tentang penggunaan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw.
 Siswa diingatkan dengan dengan keselamatan dan kesehatan kerja menggunakan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw
b. Kegiatan inti 
 Siswa melanjutkan pekerjaan membuat benda kerja dengan menggunakan peralatan mesin tetap Radial Arm Saw
 Siswa konsultasi atas hasil pekerjaan 
 Siswa melanjutkan pekerjaan 
 Siswa melanjutkan pekerjaan membuat benda kerja dengan menggunakan peralatan mesin tetap sampai disetujui guru pembimbing.
c. Kegiatan Akhir
 Siswa membereskan pekerjaan dan bersikap positif dan terbuka terhadap penilaian hasil pekerjaan oleh guru
 Siswa membersihkan ruang kerja dan menyimpan benda kerja pada tempat yang telah ditentukan.

V. Alat/Bahan/Sumber Belajar
a. Alat
 Pensil Gambar
 Siku/ roll meter
 Mesin tetap Radial Arm Saw
  b. Bahan 
 Kayu Mahoni ukuran 5 x 5 x 60 
c. Sumber ajar 
 Modul
 Job sheet
 Buku menggunakan mesin tetap
 Buku konstruksi Perabot Kayu


VI. Penilaian
a. Tugas praktek individu kerja kayu 

No Aspek Skor Bobot Skor Maksimal
a. Laporan
 Ketepatan waktu
 Isi Laporan 
3
2 3 15
b. Keamanan dan keselamatan kerja 
 Penggunaan alat K 3
 Sikap kerja  
3
2 2 10
c. Hasil Kerja 
 Ketepatan ukuran 
 Penggunaan alat / mesin
 Proses kerja 
 Hasil pekerjaan  
3
3
3
3 5 60
d. Membereskan pekerjaan
 Membereskan alat dan benda kerja
 Kebersihan tempat kerja 
3
2 3 15
 Jumlah 100

Skore Nilai = (Nilai perolehan x bobot)  

b. Instrumen Tugas individu :
 Tugas praktek penggunaan peralatan mesin tetap.
 Siswa harus menguasai secara sistimatis nama-nama bagian dari mesin gergaji bundar berlengan.





Soal pengamatan dan teori 
1. Sebutkan bagian-bagian dari mesin gergaji bundar berlengan!
2. Sebutkan fungsi pokok dari mesin gergaji bundar berlengan!
3. Selain fungsi pokok dari mesin gergaji bundar berlengan, sebutkan pekerjaan lain yang dapat dikerjakan dengan mesin tersebut!
4. Sebutkan tiga skala penyetelan mesin gergaji bundar berlengan!
5. Bagaimana cara menurunkan daun gergaji dengan tepat apabila kita hendak melakukan pekerjaan memotong cowakan atau dado?







Kendal, 16 Juli 2008
Kepala SMK N 2 Kendal Guru Produktif Kendal, Juli 2007
  Guru




Drs. Sodiq Purwanto, M.Pd Agus Winoto, S.Pd 
NIP. 131 635 313 NIP. 500176462

Jumat, 04 Januari 2008

CARA MEMBUAT MODUL

CARA MEMBUAT MODUL

Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode,batasan-batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan tingkat kompleksitasnya.
Pengertian Modul
Modul adalah bahan ajar yang disusun secarasistematis dan menarik yang mencakup isi materi,metoda, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri.
kebahasaannya dibuat sederhana sesuai dengan level berfikir anak SMK atau input SMK digunakan secara mandiri, belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing individu secara efektif dan efesien. memiliki karakteristik stand aloneyaitu modul
dikembangkan tidak tergantung pada media lain
• bersahabat dengan user atau pemakai, membantu
kemudahan pemakai untuk direspon atau diakses.
MODUL
• mampu membelajarkan diri sendiri.
• Tujuan antara dan tujuan akhir modul harus
dirumuskan secara jelas dan terukur,
• materi dikemas dalam unit-unit kecil dan tuntas,
tersedia contoh-contoh, ilustrasi yang jelas
• tersedia soal-soal latihan, tugas, dan sejenisnya
• materinya up to datedan kontekstual,
• bahasa sederhana lugas komunikatif,
• terdapat rangkuman materi pembelajaran,
• tersedia instrument penilaian yang
memungkinkan peserta diklat melakukan self
assessment.
MODUL
• mengukur tingkat penguasaan materi diri
sendiri,
• terdapat umpan balik atas penilaian
peserta diklat,
• terdapat informasi tentang
rujukan/pengayaan/referensi yang
mendukung materi
• Dipergunakan untuk
ORANG LAIN
• Bukan untuk
PENULIS !!!
1. Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak
terlalu bersifat verbal.
2. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik siswa
atau peserta diklat maupun guru/instruktur.
3. Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti :
Tujuan Penulisan Modul
Meningkatkan motivasi dan gairah belajar bagi siswa atau
peserta diklat;
Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
berinteraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar
lainnya,
memungkinkan siswa atau peserta diklat belajar mandiri
sesuai kemampuan dan minatnya.
Memungkinkan siswa atau peserta diklat dapat mengukur
atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya.
MODUL
Modul
Cetakan
Multimedia
Interaktif
Kerangka Penulisan Modul
Kerangka pengembangan
Modul
Pedoman Penulisan Modul
Pedoman Pengembangan
Modul Multimedia
Interaktif
KARAKTERISTIK MODUL
Peserta diklat mampu membelajarkan diri
sendiri, tidak tergantung pada pihak lain.
1. Self instructional
2. Self Contained
Seluruh materi pembelajaran dari satu unit
kompetensi atau sub kompetensi yang
dipelajari terdapat di dalam satu modul
secara utuh
3. Stand alone
Modul manual/multimedia yang
dikembangkan tidak tergantung pada media
lain atau tidak harus digunakan bersamasama
dengan media lain
KARAKTERISTIK MODUL
4. Adaptif
Modul hendaknya memiliki daya adaptif
yang tinggi terhadap perkembangan ilmu
dan teknologi
Sosialisasi KTSP
5. User friendly
Modul hendaknya juga memenuhi kaidah
bersahabat/akrab dengan pemakainya
KARAKTERISTIK MODUL
Dalam penggunaan :
FONT
SPASI
TATA LETAK (LAYOUT)
6. Konsistensi
7. Format
Format kolom tunggal atau multi
Format kertas vertikal atau horisontal
Icon yang mudah ditangkap
KARAKTERISTIK MODUL
Tampilkan peta/bagan
Urutan dan susunan yang sistematis
Tempatkan naskah, gambar dan ilustrasi yang
menarik
Antar bab, antar unit dan antar paragraph dengan
susunan dan alur yang mudah dipahami
Judul, sub judul (kegiatan belajar), dan uraian yang
mudah diikuti
Organisasi
Daya Tarik
• Mengkombinasikan warna, gambar
(ilustrasi), bentuk dan ukuran huruf
yang serasi
• Menempatkan rangsangan-rangsangan
berupa gambar atau ilustrasi,
pencetakan huruf tebal, miring, garis
bawah atau warna.
• Tugas dan latihan yang dikemas
sedemikian rupa.
Bentuk dan Ukuran Huruf
Bentuk dan ukuran huruf yang mudah
dibaca
Perbandingan huruf yang proporsional
Hindari penggunaan huruf kapital untuk
seluruh teks
Ruang (spasi kosong)
Gunakan spasi atau ruang kosong
tanpa naskah atau gambar untuk
menambah kontras penampilan
modul
KERANGKA MODUL
• Halaman Sampul
• Halaman Francis
• Kata Pengantar
• Daftar Isi
• Peta Kedudukan Modul
• Glosarium
I. PENDAHULUAN
A. Deskripsi
B. Prasarat
C. Petunjuk Penggunaan Modul
1. Penjelasan Bagi Peserta diklat
2. Peran Guru Antara Lain
D. Tujuan Akhir
E. Kompetensi
F. Cek Kemampuan
II. PEMBELAJARAN
A. Rencana Belajar Peserta diklat
B. Kegiatan Belajar
1. Kegiatan Belajar
a. Tujuan Kegiatan Pembelajaran
b. Uraian Materi
c. Rangkuman
d. Tugas
e. Tes Formatif
f. Kunci Jawaban Formatif
g. Lembar Kerja
2. Kegiatan Belajar 2
3. Kegiatan Belajar n
III. EVALUASI
A. Kognitif Skill
B. Psikomotor Skill
C. Attitude Skill
D.Produk/Benda Kerja Sesuai
Kriteria Standart
E. Batasan Waktu Yang Telah
Ditetapkan
F. Kunci Jawaban
IV. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
Profil
Kompetensi
Lulusan
Kompetensi
•Kompetensi Dasar
•Indikator
•Materi Pembelajaran
•Kegiatan Pembelajaran
•Acuan Penilaian
Perumusan Judul-Judul
Modul
Pemilihan Judul MODUL
yang akan Dibuat
Rambu-Rambu
Pemilihan
Judul
Pengumpulan Buku-Buku &
Sumber Bahan
Judul Modul
Identifikasi
Kompetensi Dasar
Aspek Materi
Pembelajaran
Kegiatan Pemb.
Penyusunan
Draft MODUL
Format
Penulisan MODUL
Buku-Buku &
Sumber Bahan
Identifikasi
Indikator dan
Penilaian
Draft MODUL
MODUL
INSTRUMEN
VALIDASI VALIDATOR
REVISI/Penyempurnaan
FILE
ELEKTRONIK
Sosialisasi KTSP
Contoh kalimat dengan kata kerja :
Tugas itu dikerjakan oleh peserta TOT Kurikulum KTSP
Bagaimanakah dengan kalimat di bawah ini ?
Dalam kamar ini memerlukan empat buah kursi.
1. Syarat Kalimat
Kalimat sekurang-kurangnya memiliki subyek dan predikat
Jenis predikat:
• Katakerja
• Bukan kata kerja (kata benda, kata sifat, kata bilangan,
frase preposisi)
Sosialisasi KTSP
Kesalahan struktur:
Saya sudah katakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan
benar itu tidak mudah. (aktif-pasif).
Dalam konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak
memutuskan tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya.
(subyek-keterangan).
Meskipun kita tidak menghadapi musuh, tetapi kita harus selalu
waspada. (kalimat majemuk dan kalimat bersusun).
Struktur kalimat
Aktif
Pasif
• Gagasan utama
• Kalimat topik
• Koherensi
• Kata-kata transisi
Alinea/ Paragraf
Sosialisasi KTSP
•Fungsi Ilustrasi
•Fungsi deskriptif
•Fungsi ekspresif
•Fungsi Analitis
•Fungsi kuantitatif
2. Menggunaan Ilustrasi dalam
Modul
Ilustrasi dapat berupa: foto, gambar, grafik,
tabel, kartun, dsb, yang memiliki fungsi :
3. Pahami Diagram Pencapaian
Kompetensi
4. Pahami Peta Kedudukan Modul
Akhir
Kinerja yang diharapkan
Kriteria keberhasilan
Kondisi atau variable yang diberikan
Perumusan tujuan akhir berisi pernyataan
pencapaian kompetensi sesuai persyaratan
dunia usaha/industri (entry level).
Rumusan tujuan tersebut harus memuat :
Sosialisasi KTSP
Contoh Tujuan Akhir Modul
Peserta diklat dapat menggambar rangkaian
elektronika (kinerja) berdasarkan standar
gambar teknik (kriteria) dan dapat
mengimplementasikannya menjadi gambar
layout pada PCB (kondisi).

6. Tujuan kegiatan pembelajaran
Memuat kemampuan yang harus
dikuasai untuk mencapai satu
indikator kompetensi pada KUK
setelah mengikuti satu satuan
kegiatan belajar berisikan komponen:
kemampuan, kondisi, dan kriteria.

Contoh tujuan kegiatan belajar
peserta diklat dapat mengimplementasikan
gambar rangkaian elektronika menjadi
gambar layout pada PCB.
7. MenyusunTugas
Tugas-tugas yang harus diketahui dan dikerjakan
sesuai kriteria unjuk kerja
Kegiatan observasi untuk mengenal fakta,
Menyusun learning evidence indicator (indikator
bukti belajar),
Melakukan kajian materi pada kegiatan belajar,
Tutorial dengan guru.
Berisi instruksi untuk peserta diklat meliputi

8. Menyusun Tes Formatif
Berisi tes tertulis sebagai bahan pertimbangan
bagi peserta dan guru untuk mengetahui sejauh
mana penguasaan kegiatan belajar yang telah
dicapai sebagai dasar untuk melaksanakan
kegiatan berikut (lembar kerja).
HINDARI MENGGUNAKAN TES
PILIHAN GANDA !!!

PELATIHAN PEMBUATAN PERABOT KAYU

PROPOSAL PELATIHAN KETRAMPILAN
PEMBUATAN PERABOT KAYU





A. Dasar pemikiran
Tingginya lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sangat potensial menimbulkan masalah sosial yang berupa pengangguran. Hal ini terjadi karena lulusan menengah tidak mempunyai bekal yang cukup dalam menerapkan dan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kondisi ini juga disebabkan minimnya tingkat ketrampilan yang dimiliki oleh para lulusan.
Penguasaan ketrampilan yang mengarah kepada keahlian tertentu dengan teknologi yang sederhana akan membantu para lulusan dalam menghadapi dunia kerja. Pembekalan ketrampilan bagi lulusan sekolah menengah yang tidak melanjutkan atau siswa yang drop out, merupakan suatu solusi mengatasi masalah pengangguran. Pembekalan ketrampilan merupakan suatu upaya untuk menciptakan lulusan pelatihan ketrampilan mampu menciptakan usaha mandiri.
Pembekalan ketrampilan harus juga sesuai dengan kondisi lingkungan agar keahlian yang dimiliki bisa dilaksanakan. Meningkatnya kebutuhan peralatan dan perabotan rumah tangga yang menggunakan kayu merupakan suatu kondisi yang baik sebagai pasar usaha. Oleh karena itu pelatihan ketrampilan pembuatan perabot kayu sangat relevan terhadap peluang kerja dan penciptaan tenaga kerja yang mandiri. Ketrampilan membuat perabot kayu merupakan bidang produksi dan jasa yang sesuai dan sangat sesuai dengan kondisi sekarang. Adanya ketrampilan ini diharapkan lulusan dapat menciptakan peluang usaha sendiri dengan menjadi wira usaha yang handal.


B. Nama kegiatan
§ PELATIHAN KETRAMPILAN MEMBUAT PERABOT KAYU

C. Tujuan
§ Meningkatkan rasa percaya diri bagi lulusan menengah dalam kompetisi didunia kerja.
§ Meningkatkan ketrampilan peserta dalam bidang pembuatan perabot kayu.
§ Mengurangi jumlah pengangguran dengan menciptakan lulusan yang kompeten dibidang pembuatan perabot kayu.
§ Bekal kecakapan hidup dalam usaha untuk ikut bersaing dalam dunia kerja.

D. Sasaran
§ Sasaran yang hendak dicapai dalam kegiatan ini adalah tercapainya ketrampilan dari peserta sesuai dengan standar kompetensi dibidang pembuatan perabot kayu.

E. Estimasi Biaya
§ Pembiayan dari kegiatan ini berasal dari anggaran pemerintah daerah kabupaten Kendal dengan rencana anggaran biaya terlampir

F. Waktu Dan Tempat Penyelenggaraan
§ Waktu penyelenggaran kegiatan pelatihan ketrampilan pembuatan perabot kayu akan dilaksanakan selama satu bulan yaitu 5 Nopember 2007 sampai dengan 5 Desember 2007 dengan jadwal terlampir.
§ Tempat penyelenggaran kegiatan dilaksanakan di bengkel perabot kayu SMK Negeri 2 Kendal



G. Metode Dan Materi Pelatihan
§ Materi kegiatan pelatihan ketrampilan pembuatan perabot kayu dengan menggunakan metode teori dan praktek dengan materi pelatihan terlampir.

H. Peserta
§ Kegiatan pelatihan ketrampilan pembuatan perabot kayu ini diikuti 20 peserta yang berasal dari masyarakat kabupaten kendal dengan batas usia 18 – 25 tahun baik putra maupun putri.

I. Penyelenggara
§ Penyelenggara kegiatan pelatihan ketrampilan pembuatan perabot kayu ini adalah Kantor Tenaga kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kendal bekerja sama dengan SMK Negeri 2 Kendal dengan susunan panitia terlampir.

J. Penutup
Demikian atas dukungan dan bantuan dalam pembuatan proposal ini kami ucapkan terimakasih.

Kendal , 2 Nopember 2007
Mengetahui
Kepala SMK Negeri 2 Kendal Ka. Bid Teknik Bangunan




Drs. Sodiq Purwanto, M.Pd Setyo Noegroho, S.Pd
NIP. 131 635 313 NIP. 132 083 880

Kamis, 03 Januari 2008

TEACHING FACTORY SEBAGAI PENDEKATAN PEBELAJARAN DI SMK JURUSAN PERABOT KAYU

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar belakang Masalah
Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia ini juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pendidikan yang merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan tersebut harus terprogram dan melalui jalur yang tepat agar yang dihasilkan benar – benar bermutu dan kompeten serta bisa bersaing dalam dunia global.
Demikian juga dengan Sekolah Menengah Kejuruan yang berfungsi sebagai lembaga pencetak tenaga terampil dan kompeten dibidangnya harus bisa selaras dengan kebutuhan dunia industri untuk bisa bersaing. Oleh karena itu peningkatkan sumber daya manusia harus menjadi prioritas utama dalam rangka meningkatkan kualitas lulusannya.
Rendahnya kualitas lulusan sekolah kejuruan berakibat produktifitas tenaga kerja terampil di dunia industri semakin terpuruk. Kepercayaan dunia industri semakin berkurang sehingga lulusan yang terserap juga sedikit. Salah satu faktor penyebab adalah kurikulum yang terus berubah menyebabkan kondisi di lembaga pengelola pendidikan kejuruan semakin terbebani. Kondisi tersebut secara tidak langsung berakibat lembaga pendidikan kejuruan tidak siap dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Seharusnya Sebagai lembaga pendidikan yang mendidik calon tenaga kerja, keunggulan yang dikembangkan oleh sekolah menengah kejuruan diutamakan pada keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk mencapai hal tersebut SMK harus memprioritaskan pengembangan sistem pendidikan yang berorientasi pada peningkatan tamatan yang benar-benar profesional, memiliki etos kerja, disiplin dan tetap menjunjung tinggi serta berakar pada budaya bangsa.
Pendidikan yang paling sesuai untuk meningkatkan hal tersebut adalah pendidikan yang berorentasi pada dunia industri dengan penekanan pada pendekatan pembelajaran dan didukung oleh kurikulum yang sesuai. Dunia industri yang merupakan sasaran dari proses dan hasil pembelajaran sekolah menengah kejuruan mempunyai karakter dan nuansa tersendiri. Oleh karena itu lembaga pendidikan kejuruan dalam proses pembelajaran harus bisa membuat pendekatan pembelajaraan yang tepat dan sesuai dengan keinginan dunia industri.
B. Permasalahan
Bagaimanakah pendekatan pembelajaran yang tepat bagi siswa SMK yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri ?
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah :
1. Mengembangkan pendekatan pembelajaran untuk Sekolah Menengah Kejuruan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
2. Meningkatkan kualitas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dalam persaingan tenaga kerja.
3. Alternatif pendekatan pembelajaran Sekolah Menengah Kejuruan yang sesuai dengan perkembangan kurikulum dan tuntutan dunia industri.

D. Definisi Operasional
Penulisan karya ilmiah dengan judul Pendekatan Pembelajaran Teaching Factory Di SMK Negeri 2 Kendal Program Keahlian Perabot Kayu adalah suatu konsep pendekatan pembelajaran dalam ruangan kelas dan bengkel praktek dengan menerapkan pelatihan dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan dari sekolah di SMK Negeri 2 Kendal.
Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa dalam pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri.
BAB II
KERANGKA TEORITIS


A. Kerangka teoritis
1. Pengertian pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran adalah suatu cara dalam proses kegiatan pendidikan. Bower dan Higrd dalam buku Theories of Learning (1975) mengemukakan belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya berulang – ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan sesaat seseorang. Teori lain mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu pengalaman. ( Morgan, The Conditions of Learning ; 1977 ).
Pengertian pendekatan pembelajaran dalam karya ilmiah ini adalah suatu cara belajar melalui proses perubahan yang relatif tetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai hasil dari latihan atau pengalaman.


2. Teaching Factory (TEFA)
Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan sekolah. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa dalam pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. (Brosur IGI, 2007).
Dalam pengertian lain bahwa pembelajaran berbasis produksi adalah suatu proses pembelajaran keahlian atau ketrampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa yang sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Dengan kata lain barang yang diproduksi dapat berupa hasil produksi yang dapat dijual atau yang dapat digunakan oleh masyarakat, sekolah atau konsumen.
Pembelajaran berbasis produksi dalam paradigma lama hanya mengutamakan kualitas produk barang atau jasa tetapi hasil dari produksi tersebut tidak ada dipakai atau di pasarkan hanya semata – mata untuk menghasilkan nilai dalam proses belajar mengajar.

B. Kerangka Berfikir
Penulisan karya ilmiah ini berorientasi pada peningkatan kualitas mutu pembelajaran di kalangan lembaga pendidikan khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan. Oleh sebab itu hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi alternatif dalam proses kegiatan belajar di SMK. Proses pendekatan pembelajaran dengan TEFA (Teaching Factory) adalah perpaduan pendekatan pembelajaran yang sudah ada yaitu CBT (Competency Based Training) dan PBT (Production Based Training). CBT adalah pelatihan yang didasarkan atas hal – hal yang diharapkan oleh siswa ditempat kerja. CBT ini memberikan tekanan pada apa yang dapat dilakukan oleh seseorang sebagai hasil pelatihan (out put) bukan kuantitas dari jumlah pelatihan. PBT (Production Based Training) adalah suatu proses pembelajaran keahlian atau ketrampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen.
Dari uraian diatas maka metode pembelajaran TEFA lebih mengarah kepada proses pengelolaan manajemen di ruang kelas dan ruang praktek berdasar prosedur dan standar bekerja di dunia industri yang sesungguhnya. Pengertian lain adalah proses pembelajaran keahlian atau ketrampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen.

C. Hipotesis
Dari hasil kajian teoritis diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran TEFA adalah suatu konsep pembelajaran dalam ruangan kelas dan bengkel praktek dengan menerapkan pelatihan dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan dari sekolah.



BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN



A. Siklus 1 Proses Pembentukan Manajemen TEFA
1. Peneliti mengamati siswa kelas 2 Teknik Perabot Kayu dalam proses pembentukan struktur organisasi manajemen produksi kecil di tingkat kelas sesuai bentuk struktur organisasi di pabrik yang bertugas selama satu tahun ajaran yang dipandu oleh konsultan ( guru pengampu ).
2. Guru dalam konsep pendekatan pembelajaran TEFA bertindak sebagai konsultan dan asesor serta fasilitator. Konsultan dalam posisi disini sebagai tenaga teknis ahli, penilai (asesor) dan juga pemberi order. Fasilitator bertugas memberikan fasilitas atau pelayanan terhadap kebutuhan unit produksi kecil. Pada posisi ini diperankan oleh pihak sekolah dan unit produksi.
3. Siswa yang dipercaya sebagai manajer bertanggung jawab mengkoordinir manajemen baik bagian administrasi, bagian pemasaran, bagian produksi perencanaan dan juga Maintenance and Repair (MR). Posisi manajer ini bertanggung jawab dan melaporkan hasil pekerjaan kepada konsultan, dan juga fasilitator yang diperankan oleh guru pengampu.
4. Siswa yang menduduki jabatan bagian administrasi, bagian pemasaran, bagian produksi perencanaan dan juga maintenance and repair (MR) bekerja mengelola sesuai prosedur yang telah ditetapkan oleh manajer melalui pekerjaan yang telah disetujui oleh konsultan dan bertanggung jawab langsung pada manajer.
5. Siswa yang menduduki jabatan Bagian produksi bertugas sebagai Quality Control atas hasil pekerjaan dan mengelola bawahannya yang terdiri dari kepala regu.
6. Kepala regu mengelola manajemen pekerja dan hasilnya yang dilakukan oleh para karyawannya serta bertanggung jawab kepada bagian produksi. Posisi kepala regu ini sangat penting karena pengawasan atas hasil pekerjaan dan juga quality control tingkat bawah yang secara langsung mengecek kondisi lapangan baik bahan ataupun material pelengkap lainnya.

B. Siklus 2 Proses Produksi
1. Order dari konsumen yang berupa konsep gambar diadministrasikan oleh bagian administrasi dan diserahkan kepada bagian perencana. Hasil dari perencana yang berupa gambar jadi dan juga kalkulasi harga diserahkan kembali ke manajer. Manajer menyetujui dan mengesahkan hasil perencanaan setelah mendapat persetujuan dari konsultan dan fasilitator.
2. Hasil perencanaan diserahkan kepada bagian produksi sesuai pesanan. Tugas lain dari manajer adalah menerima hasil penilaian pekerjaan dari bagian produksi dan juga membuat laporan hasil pekerjaan yang akan diserahkan kepada konsultan.
3. Bagian produksi membagi tugas kepada kepala regu untuk mengerjakan pesanan sesuai dengan jumlah karyawan dan bagian masing – masing. Pada proses ini bagian produksi memberikan target waktu penyelesaian pekerjaan. Bagian produksi juga menerima laporan dan penilaian hasil dari karyawan melalui kepala regu. Data penilaian hasil pekerjaan diserahkan kepada manajer.
4. Kepala regu menganalisa pesanan dan memberikan tugas pekerjaan kepada para karyawan. Selama dalam proses produksi ini kepala regu setiap saat mengecek hasil pekerjaan dan melaporkan hasil pekerjaan kepada bagian produksi. Tugas lain dari kepala regu adalah memberikan penilaian hasil pekerjaan yang nantinya dilaporakan kepada bagian produksi.

C. Siklus 3 Proses Pemasaran atau hasil produksi
1. Produk barang yang sudah jadi dicek ulang oleh bagian produksi dan manajer. Kesesuaian produk barang pesanan dan standar mutu produk harus disetujui oleh konsultan sebelum proses pemasaran.
2. Bagian administrasi mendata kuantitas produk barang sesuai dengan standar mutu yang ada.
3. Bagian pemasaran menjual produk barang kepada konsumen sesuai kesepakatan yang telah disetujui bersama. Apabila dalam bentuk pesanan maka bagian pemasaran menanyakan mutu dan jumlah barang kepada pemesan dan dibuat laporan. Produk barang yang dibuat tanpa ada pesanan maka bagian pemasaran bertugas menjual produk barang itu kepada konsumen.
4. Setiap hasil penjualan harus dilaporkan kepada manajer melalui bagian administrasi.
5. Dalam konsep pendekatan pembelajaran TEFA ini setiap hasil penjualan atas barang yang diproduksi oleh unit produksi kecil dikelola oleh bagian administrasi setelah dikurangi atas biaya listrik dan bahan. Apabila bahan dan perlengkapan lainnya merupakan hasil usaha dari siswa maka hasil penjualan dikurangi biaya listrik.
6. Hasil kegiatan pendekatan pembelajaran TEFA ini mutlak menjadi milik siswa dan dibagikan pada setiap akhir kelulusan.

D. Siklus 4 Evaluasi dan Penilaian
1. Pada proses ini peneliti mengamati proses evaluasi yang dilakukan oleh konsultan yang juga bertindak sebagai asesor atau penilai.
2. Setiap hasil pekerjaan yang telah dicek kualitasnya diserahkan oleh manajer untuk diperiksa kualitasnya kepada konsultan.
3. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan dinilai oleh kepala regu dan divalidasi oleh bagian produksi.
4. Tahapan penilaian ini kepala regu juga bertindak sebagai asesor bagi karyawan dan bagian produksi bertindak sebagai asesor bagi kepala regu. Penilaian yang dilakukan oleh kepala regu dan bagian produksi diserahkan kepada bagian administrasi dan dilanjutkan ke manajer.
5. Konsultan atau asesor memberikan penilaian atas hasil kerja manajer dan bagian – bagian lainnya. Pemberian nilai oleh asesor berdasarkan atas kriteria yang ditentukan berdasarkan kompetensi pekerjaan. Nilai yang dihasilkan asesor adalah nilai akhir dari hasil penilaian kepala regu, kepala bagian produksi dan juga manajer.
6. Penilaian yang diberikan kepada siswa adalah penilaian dalam bentuk lembar penilaian kompetensi yang harus diisi setelah job pekerjaan dan standar kompetensi atau keahlian selesai. Dalam penilaian, lembar penilaian kompetensi dibawa oleh siswa dan diberikan kepada asesor setiap melakukan penilaian.
7. Pengumuman nilai dilakukan setiap akhir pekerjaan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Lebih jelasnya siklus dalam penelitian digambarkan dalam bagan alir sebagai berikut :

SIKLUS PENDEKATAN PEMBELAJARAN METODE TEFA
SIKLUS II
Proses Produksi Dan KBM Produktif
SIKLUS I
Pembentukan manajemen TEFA
SIKLUS III
Pemasaran Hasil Produksi
SIKLUS IV
Penilaian standar kompetensi keahlian

§ Pengelola
§ Proses produksi
§ Manajemen pabrik
§ Daftar nilai per kompetensi
§ Evaluasi hasil
§ Perencanaan
§ Alokasi Waktu
§ Anggaran biaya
§ Administrasi
§ Bagian Pemasaran
§ Hasil produk
§ Sistem pemasaran





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN


A. Hasil penelitian
1. Lokasi Penelitian
Secara keseluruhan lokasi penelitian ini mengambil lokasi di SMK Negeri 2 Kendal yang beralamat di Gang Mangga Utara Jalan Raya Soekarno Hatta Kendal. Termasuk wilayah desa Purwokerto Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Peneliti mengambil lokasi ini dikarenakan lokasi penelitian merupakan tempat tugas peneliti dan juga pada saat ini sudah menerapkan pembelajaran Teaching Factory.
Sampling Penelitian pendekatan pembelajaran TEFA ini adalah siswa kelas 2 dan Kelas 3 Program Keahlian Teknik Bangunan Program Diklat Teknik Perabot Kayu SMK Negeri 2 Kendal. Pengambilan sampling ini didasari oleh kondisi pada saat ini SMK Negeri 2 Kendal sedang melaksanakan program Teaching Factory kerjasama dengan IGI ( Indonesian German Institute ).
Pada saat ini SMK Negeri 2 Kendal sudah termasuk Sekolah Berstandar Internasional ( SBI ). Prestasi dibidang manajemen pada saat ini SMK Negeri 2 Kendal sudah memiliki standar mutu manajemen ISO 9001- 2001. Status program keahlian yang ada di SMK Negeri 2 Kendal sudah terakreditasi A. Hal lain yang mendukung adalah pada saat ini SMK Negeri 2 Kendal menjalin kerjasama dengan IGI ( Indonesia German Institute ) dan sebagai sisternya adalah PIKA Semarang yang program kerjanya adalah mengembangkan SMK menjadi lembaga pendidikan yang berorientasi pada Teaching Factory (TEFA).
2. Tujuan Pendekatan Pembelajaran TEFA
Tujuan dari pendekatan pembelajaran TEFA dilandasi oleh tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tahun 2006 (KTSP), pendekatan pembelajaran yang berbasis produksi dan pembelajaran di dunia kerja, dukungan mutu pendidikan dan latihan yang berorentasi hubungan sekolah dengan dunia industri dan dunia usaha menerapkan unit produksi di sekolah. Landasan lain adalah semakin mahalnya biaya bahan praktik siswa, peralatan yang harus terpelihara dalam kondisi standar, motivasi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi warga sekolah serta menimbulkan kepercayaan diri dan juga kebanggaan bagi lulusannya.
Secara umum pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran TEFA ini bertujuan untuk melatih siswa untuk mencapai ketepatan waktu, kualitas yang dituntut oleh industri, mempersiapkan siswa sesuai dengan kompetensi keahliannya, menanamkan mental kerja dengan beradaptasi secara langsung dengan kondisi dan situasi industri, menguasai kemampuan manajerial dan mampu menghasilkan produk jadi yang mempunyai standar mutu industri.
3. Proses Pendekatan Pembelajaran TEFA
Kegiatan pendekatan pembelajaran TEFA merupakan satuan kesatuan lingkungan sekolah dengan berbasis pada industri. Setiap kegiatan mempunyai fungsi dan tugas serta tanggung jawab masing – masing. Pendekatan pembelajaran TEFA mengatur ketersediaan pekerjaan dari konsumen yang melibatkan unsur unit produksi sekolah dan industri.
Aspek kegiatan belajar mengajar mengatur pelaksanaan pembelajaran sesuai standar kompetensi keahlian yang berbasis produksi dunia industri dan melibatkan unsur sekolah. Penggunaan peralatan dan bahan kerja sesuai standar mutu di dunia industri. Kualitas produk yang dihasilkan harus laku di pasar dan sesuai standar industri. Proses pendekatan pembelajaran TEFA ini juga harus bisa menciptakan jalinan hubungan industri yang lebih luas.
4. Mekanisme Dalam Menyusun Pendekatan Pembelajaran TEFA
Penyusunan pendekatan pembelajaran TEFA ini dapat disusun dengan tahapan – tahapan sebagai berikut :
a. Perencanaan pembelajaran yang meliputi konsep kurikulum yang mendukung yaitu pembuatan kompetensi keahlian yang mendukung job pekerjaan. Pembuatan perangkat job sheet dan modul dalam bentuk kompetensi dasar yang sesuai dengan kompetensi dasar keahlian.
b. Konsultan mempersiapkan dan menentukan kompetensi dan sub kompetensi dasar sesuai dengan job atau pesanan.
c. Konsultan membuat daftar ketrampilan dari setiap sub kompetensi dari pekerjaan untuk evaluasi hasil pembelajaran.
d. Konsultan bersama fasilitator membentuk perangkat manajemen pengelola sesuai bidang usaha yang akan dikerjakan.
e. Konsultan menentukan lokasi dan target waktu yang diperlukan dalam pembuatan produksi yang harus diperhitungkan sesuai dengan alokasi waktu belajar dan disesuaikan standar industri.
f. Konsultan membentuk organisasi unit produksi kecil dengan tugas dan tanggung jawab masing- masing bagian.
g. Pengelola unit produksi kecil menerima pesanan dan memproduksi barang sesuai standar yang telah ditetapkan oleh konsultan sesuai tugas dan tanggung jawab masing- masing.
Secara lebih jelasnya dalam menyusun mekanisme pendekatan pembelajaran TEFA dapat digambarkan sebagai berikut :


KOMPONEN
§ Ka. Sekolah
§ Ka. Bidang
§ Ka. Bengkel
§ Guru
KONSEP PENDEKATAN PEMBELAJARAN TEFA
PERENCANAAN

Aspek KBM yang mengatur pelaksanaan pembelajaran dengan melibatkan unsur Kepala Sekolah, kepala bidang, kepala Bengkel dan guru





KONSULTAN PENGELOLAAN

Pengelolaan Unit produksi kecil pada pencapaian kompetensi yang standar dengan industri
KOMPONEN
§ Konsultan /guru
§ Fasilitator
KOMPONEN
§ Konsultan /guru
§ Fasilitator / Guru
§ Manajemen unit produksi kecil
KOMPONEN
§ Assesor /guru
§ Fasilitator / Guru
KOMPONEN
§ Konsultan /guru
§ Fasilitator
§ Ka. Bengkel
§ Ka. Unit Produksi sekolah
PEMBUATAN PERANGKAT MANAJEMEN TEFA

Pembentukan organisasi unit produksi kecil ditingkat kelas
PERSIAPAN UNIT PRODUKSI KECIL

Mempersiapkan sarana pendukung produksi dan ketersediaan pekerjaan dari pemesan dan pasar melibatkan unit produksi sekolah
MELAKUKAN EVALUASI

Melakukan evaluasi pembelajaran terhadap hasil pembelajaran dan standar mutu pekerjaan

B. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian Pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran TEFA di SMK Negeri 2 Kendal sudah berjalan sesuai mekanisme dan konsep yang ada. Peralatan yang mendukung serta sumber daya profesional secara tidak langsung membuat siswa semakin percaya diri dan bangga atas pendekatan pembelajaran TEFA. Kondisi sekolah yang sangat baik dan kebijakan sekolah yang sesuai merupakan pemacu bagi konsep TEFA ini bisa dilaksanakan.
Dalam pendekatan pembelajaran TEFA di SMK Negeri 2 Kendal guru sebagai konsultan sangat memegang peranan penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Konsultan (Guru) harus mampu menterjemahkan kompetensi atau sub kompetensi setiap pekerjaan yang harus diserahkan kepada manajer (pengelola). Tugas lain dari konsultan adalah memberi evaluasi terhadap hasil pekerjaan siswa secara transparan. Pendekatan pembelajaran sangat meringankan tugas guru karena siswa sudah terkontrol oleh temannya, sehingga guru hanya memberikan pengarahan sesuai job. Hasil dari kegiatan praktek yang dulu tidak terpakai atau tidak bisa terjual dengan pendekatan pembelajaran ini maka setiap hasil praktek akan menjadi barang yang siap jual dan menguntungkan.
Pendekatan pembelajaran dengan metode ini, konsultan (Guru) mampu meningkatkan kualitas kerja siswa serta ketepatan waktu dalam pekerjaan. Kontrol yang dilakukan oleh manajer dan kepala regu membuat karyawan (Siswa) bertanggung jawab atas hasil pekerjaan yang dilakukannya.
Aspek kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada ketrampilan dan kemampuan siswa ini sangat baik apabila didukung oleh komponen yang lain seperti keterlibatan konsumen dan dunia industri dalam pengembangannya.
Siswa sebagai obyek penelitian dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran TEFA di SMK Negeri 2 Kendal juga merasakan senang Karena ketrampilan serta kemampuanya bisa dilakukan secara maksimal. Hasil dari pekerjaan selama sekolah bisa dinikmati siswa sehingga siswa akan terpacu untuk bekerja keras dan juga mencari order pesanan agar mereka bisa mendapatkan hasil yang lebih banyak.
Dalam kegiatan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran TEFA di SMK Negeri 2 Kendal juga ada Kendala dan hambatan yang ada diantaranya:
1. Ada sebagian siswa yang belum siap terutama untuk mengerjakan job pekerjaan dengan tepat waktu.
2. Sebagian mutu produk hasil pekerjaan siswa belum terkontrol sesuai standar industri hal ini disebabkan oleh kemampuan siswa yang masih kurang.
3. Siswa lebih suka pelajaran produktif di bengkel dari pada belajar didalam ruang kelas.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN


A. Simpulan
Dari hasil penelitian maka proses pendekatan pembelajaran TEFA (Teaching Factory) adalah perpaduan metode yang sudah ada yaitu CBT (Competency Based Training) dan PBT (Production Based Training). CBT adalah pelatihan yang didasarkan atas hal – hal yang diharapkan oleh siswa ditempat kerja. CBT ini memberikan tekanan pada apa yang dapat dilakukan oleh seseorang sebagai hasil pelatihan (out put) bukan kuantitas dari jumlah pelatihan. PBT (Production Based Training) adalah suatu proses pembelajaran keahlian atau ketrampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen.
Pendekatan pembelajaran TEFA adalah suatu konsep pembelajaran dalam ruangan kelas dan bengkel praktek dengan menerapkan pelatihan dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan indusri dan pengetahuan dari sekolah.
Adanya pendekatan pembelajaran TEFA maka etos kerja siswa dalam melaksanakan praktek produktif lebih baik hal ditunjukan dengan adanya peningkatan waktu penyelesaian dan juga kualitas pekerjaan semakin baik.
B. Saran
Dari hasil penelitian ini peneliti mempunyai saran:
1. Agar dalam pelaksanaan konsultan pendekatan pembelajaran dengan TEFA konsultan tidak melupakan unsur pendidikan san pembelajaran tidak semata – mata mengejar profit oriented.
2. Pengelola manajemen siswa harus lebih banyak melakukan pelatihan dan pembelajaran secara khusus agar kemampuan dan sumber daya meningkat.
3. Siswa harus lebih terkontrol dalam belajar agar tidak terlena dengan pembelajaran produktif saja.
4. Proses pendekatan pembelajaran TEFA ini, guru sebagai konsultan dan siswa sebagai pengelola unit produksi kecil harus sinergi dan selaras agar kemampuan hasil produknya lebih berkualitas.
5. Fasilitator atau pihak sekolah dengan unit produksi sekolah harus lebih aktif dalam mencari order pesanan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Basuki Wibawa, Dr: 2003, Penelitian Tindakan Kelas, Dirjen Dikdasmen, Jakarta

2. IGI : 2007, Brosur IGI, Jakarta
3. Panjaitan, D: 2003, Modul Production Based Training, Dirjen Dikdasmen, PPGT Bandung

4. Arikunto Suharsimi: 1997, Prosedur Penelitian , Rineka Cipta, Jakarta

5. Sisjono,Drs: 2002, Modul Penerapan CBT Secara Konsisten Di SMK, Dirjen Dikdasmen, PPGT Bandung